Selasa, 19 April 2011 09.21 p.m.
Bulan oranye menggantung di langit malam yang ungu
Ku tahu kau tak ada
Biar sendu menemaniku
Dengan suara yang bercakap-cakap
Dengan petik senar gitar yang bersenandung sumbang
Tuesday, April 19, 2011
Tuesday, April 5, 2011
Sebuah Percakapan yang Biru
“Oi, kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Warna biru itu menyiratkan kesedihan.”
“Oya?”
“Banyak lagu yang akhir-akhir ini aku dengar ada kata itu.”
“Biru?”
“Blue lebih tepatnya. Hmm, ya, ‘Fallin’-nya Alicia Keys, ‘You Belong to Me’ versi Vonda Shepard, ‘Someone You Use’ dengan penyanyi yang sama, dan ya.., banyak lagi mungkin yang aku nggak tau. Intinya, feel blue. Ya, something like that.”
“Kalau memang begitu, kenapa Tuhan menciptakan dunia dengan dominasi warna biru? Langit, laut... Memangnya Tuhan pengen kesedihan di dunia?”
“Makna itu manusia yang buat kali. Seperti aku mengartikan kalau biru itu artinya sedih. Biru itu ada maknanya karena aku yang memberinya makna. Buat orang lain bisa saja kan artinya jadi beda. Terus, kalau aku tadi bilang biru itu artinya ketenangan, apa kamu juga menyimpulkan kalau Tuhan itu pengen ketenangan di dunia ini? Jangan hakimi Tuhan begitu saja. Apa-apa menyalahkan Tuhan, bilang Tuhan nggak adil.”
“Ya, kamu jadi marah deh. Sori.”
“Aku nggak marah. Aku cuma menegaskan saja, dan kenapa harus minta maaf sama aku? Minta maaf sama Tuhan dong, kan kamu yang menyalahkan Tuhan.”
Mereka terdiam lama.
“Hmm, novelnya Fira Basuki juga ada yang judulnya ‘Biru’.”
“Sori, aku nggak baca Fira Basuki.”
“Ya elah. Kamu nggak perlu baca Fira Basuki buat tau judul novelnya.”
“Jadi, kamu nggak baca novelnya?”
“Aku baca.”
“Jadi?”
“Ya, ceritanya nurut aku segala sesuatu yang sedih. Selingkuh, cerai, pengkhianatan, kebohongan, kehilangan. Ya, something like that. Something blue. Aku pikir begitu.”
Hening.
“Kamu nyadar nggak, beberapa orang kalau sedang sedih inginnya ke pantai. Merasakan kalau angin bisa buang sedih itu pergi, atau pasir kemudian membenamkannya dalam-dalam, lalu membiarkannya hanyut ditelan laut.”
“Jadi, sekarang kamu lagi sedih?”
“Apa aku tampak sedih?”
“Ya, aku nggak tahu. Buktinya, kita sekarang di pantai.”
“Aku kan bilang tadi orang. Beberapa orang kalau sedang sedih inginnya ke pantai.”
“Memangnya kamu bukan orang?”
“Aku cuma mitos.”
“Heh?”
“Mitos buat kamu.”
Angin berdesir pelan.
“Apa?”
“Warna biru itu menyiratkan kesedihan.”
“Oya?”
“Banyak lagu yang akhir-akhir ini aku dengar ada kata itu.”
“Biru?”
“Blue lebih tepatnya. Hmm, ya, ‘Fallin’-nya Alicia Keys, ‘You Belong to Me’ versi Vonda Shepard, ‘Someone You Use’ dengan penyanyi yang sama, dan ya.., banyak lagi mungkin yang aku nggak tau. Intinya, feel blue. Ya, something like that.”
“Kalau memang begitu, kenapa Tuhan menciptakan dunia dengan dominasi warna biru? Langit, laut... Memangnya Tuhan pengen kesedihan di dunia?”
“Makna itu manusia yang buat kali. Seperti aku mengartikan kalau biru itu artinya sedih. Biru itu ada maknanya karena aku yang memberinya makna. Buat orang lain bisa saja kan artinya jadi beda. Terus, kalau aku tadi bilang biru itu artinya ketenangan, apa kamu juga menyimpulkan kalau Tuhan itu pengen ketenangan di dunia ini? Jangan hakimi Tuhan begitu saja. Apa-apa menyalahkan Tuhan, bilang Tuhan nggak adil.”
“Ya, kamu jadi marah deh. Sori.”
“Aku nggak marah. Aku cuma menegaskan saja, dan kenapa harus minta maaf sama aku? Minta maaf sama Tuhan dong, kan kamu yang menyalahkan Tuhan.”
Mereka terdiam lama.
“Hmm, novelnya Fira Basuki juga ada yang judulnya ‘Biru’.”
“Sori, aku nggak baca Fira Basuki.”
“Ya elah. Kamu nggak perlu baca Fira Basuki buat tau judul novelnya.”
“Jadi, kamu nggak baca novelnya?”
“Aku baca.”
“Jadi?”
“Ya, ceritanya nurut aku segala sesuatu yang sedih. Selingkuh, cerai, pengkhianatan, kebohongan, kehilangan. Ya, something like that. Something blue. Aku pikir begitu.”
Hening.
“Kamu nyadar nggak, beberapa orang kalau sedang sedih inginnya ke pantai. Merasakan kalau angin bisa buang sedih itu pergi, atau pasir kemudian membenamkannya dalam-dalam, lalu membiarkannya hanyut ditelan laut.”
“Jadi, sekarang kamu lagi sedih?”
“Apa aku tampak sedih?”
“Ya, aku nggak tahu. Buktinya, kita sekarang di pantai.”
“Aku kan bilang tadi orang. Beberapa orang kalau sedang sedih inginnya ke pantai.”
“Memangnya kamu bukan orang?”
“Aku cuma mitos.”
“Heh?”
“Mitos buat kamu.”
Angin berdesir pelan.
Saturday, April 2, 2011
Meracau
Dunia kini tak lagi sama. Keadaan sudah jauh berubah dari apa yang kumau. Karena sekarang segala pelarian telah menjadi sia-sia belaka. Kemana pun pergi hanya sama yang kutemui. Meski jalan berputar pada akhirnya segala titik kehidupan akan kembali pada hal yang sama: kehampaan. Sebelum mencapai itu, akan ada kegundahan yang mengiringi, kegalauan menerpa tanpa ampun, kelumpuhan diri, sampai pada akhirnya kehampaan yang tersisa. Hampa sehampa-hampanya. Namun tetaplah keputusasaan bukan menjadi keinginan. Tak peduli hampanya diri ini, tak akan kubiarkan jalan ini menuju pada keputusasaan itu.
Semuanya sudah kurasakan sekarang. Inilah klimaks dimana aku merasa segala hal, seluruhnya bukanlah tempat untuk mencari jawaban atas segala kehampaan ini. Aku tak bisa lagi meyakini akan ada jawaban di sana. Percuma lagi yang kutemukan jika satu pertanyaan kuajukan hanya akan kembali pada pertanyaan lain. Kalau memang akhirnya akan berada dalam kesendirian, ya sudah, sendiri saja. Aku tak ingin orang mengasihani diriku sendiri yang sedang bergerumul dalam kehampaan yang tiada terkira. Biarkan saja, hati ini meresapi penuh segala kesendirian itu. Toh, keramaian bukan lagi tempat yang menyenangkan. Atau, memang tidak pernah jadi hal yang menyenangkan?
Dimana lagi pelarian itu. Segalanya lagi percuma. Dan kini, keresahan menanti di depan muka. Bergulat aku dengan segala ketidaknyamanan itu. Mencari-cari, lagi mencari alternatif untuk melampiaskan emosi. Jika tak berhasil juga, inilah jurus pamungkasku: hibernasi. Lebih baik rasanya bergulat dengan hibernasi daripada membiarkan diri larut dalam kehampaan. Cukup sudah, tak perlu lagi. Biarkan aku yang hadapi sendiri. Ah, kalaupun nanti aku ingin menangis, aku akan menangis dalam kesendirian. Aku tak ingin ada yang menemani. Cukup aku saja. Dan Tuhan juga. Hibernasi sudah menjadi tumpuan. Saat ini, aku tenggelam dalam tangisanku sendiri. Oh, duniaku seorang.
Semuanya sudah kurasakan sekarang. Inilah klimaks dimana aku merasa segala hal, seluruhnya bukanlah tempat untuk mencari jawaban atas segala kehampaan ini. Aku tak bisa lagi meyakini akan ada jawaban di sana. Percuma lagi yang kutemukan jika satu pertanyaan kuajukan hanya akan kembali pada pertanyaan lain. Kalau memang akhirnya akan berada dalam kesendirian, ya sudah, sendiri saja. Aku tak ingin orang mengasihani diriku sendiri yang sedang bergerumul dalam kehampaan yang tiada terkira. Biarkan saja, hati ini meresapi penuh segala kesendirian itu. Toh, keramaian bukan lagi tempat yang menyenangkan. Atau, memang tidak pernah jadi hal yang menyenangkan?
Dimana lagi pelarian itu. Segalanya lagi percuma. Dan kini, keresahan menanti di depan muka. Bergulat aku dengan segala ketidaknyamanan itu. Mencari-cari, lagi mencari alternatif untuk melampiaskan emosi. Jika tak berhasil juga, inilah jurus pamungkasku: hibernasi. Lebih baik rasanya bergulat dengan hibernasi daripada membiarkan diri larut dalam kehampaan. Cukup sudah, tak perlu lagi. Biarkan aku yang hadapi sendiri. Ah, kalaupun nanti aku ingin menangis, aku akan menangis dalam kesendirian. Aku tak ingin ada yang menemani. Cukup aku saja. Dan Tuhan juga. Hibernasi sudah menjadi tumpuan. Saat ini, aku tenggelam dalam tangisanku sendiri. Oh, duniaku seorang.
Saturday, March 19, 2011
Si Kaleng
17 Maret 2011 04.02 p.m.
Aku kosong. Akulah kaleng susu bekas yang berkarat tergolek di tong sampah. Aku yang masih terdiam kaku ini kemudian dengan indahnya melayang, masuk ke dalam ruang kosong dalam diriku sendiri. Takut-takut aku pelan mengintip dari balik bibir kaleng yang terbuka. Tutupku entah kemana perginya. Barangkali hilang terbang saat aku dibuang oleh seorang ibu muda yang tadinya membeliku. Kau dapat bayangkan ketika aku berada di rak sebuah swalayan itu. Aku dengan cantik dan mengkilap berkilau berjejer dengan kaleng susu yang lain—ada yang serupa, ada yang tidak—begitu gagah di balik kaca itu. Ya, kau tahu kan tempatku berbeda dari produk lainnya yang memenuhi rak-rak rapi di swalayan itu. Kalau kau perhatikan, aku ini biasanya diletakkan dekat dengan tempat kasir. Jelas saja, tak semua tangan dapat menyentuhku, apalagi memasukkan aku dalam salah satu keranjang belanjanya. Tentu saja hanya tangan-tangan terpilihlah yang mendapatkan aku. Walaupun aku bukan yang satu-satunya berada di rak-rak itu, setidaknya aku patut berbangga diri.
Namun kini aku kosong. Habis sudah masa jayaku. Zaman keemasanku. Bayi mungil itu begitu lahap dan dengan cepat menghabiskan bubuk susu yang kukandung sehingga aku terbuang kini. Inilah nasibku si kaleng tua. Meskipun begitu, paling tidak aku masih bisa melayangkan pikiranku ke dalam diriku sendiri. Tak peduli jika hanya kosong yang kulihat. Karat yang tampak di sekeliling dindingku. Malah kini aku tanpa tutup. Jika hujan maka air hujan memenuhiku. Jika panas mendera kau tahu rasanya. Air hujan yang tertampung itu perlahan meluap dan hanya menyisakan karat padaku.
Oh, aku berpikir... dan melayang..
Bagaimana jika aku tanpa sengaja ditemukan sekelompok anak kecil yang tengah bermain karet gelang, dililit-lilitkan di jari-jari mereka hingga membentuk rumah, panah, atau bahkan kuburan. Ketika menemukan aku, si kaleng kosong berkarat ini, terlihat jelas wajah mereka seperti mendapatkan sekantong permen tak diduga dari orang entah siapa. Betapa girangnya mereka karena permen itu bukanlah sesuatu yang bisa mereka dapatkan saban hari. Terlebih lagi bukan sebiji dua yang mereka dapatkan, sekantong! Bayangkan sekantong! Kesenangan itu tentu sering menjadi angan-angan belaka bagi mereka anak kecil karena sang ibu yang tak izinkan untuk membeli, lalu bagaimana pula cara mereka merasakan nikmat manisnya bergoyang di lidah. Entah karena harganya yang mahal (sebab kemasannya yang mewah selayaknya aku dahulu. Kau tahu kan betapa mahalnya aku?), atau karena ditakut-takuti akan sakit gigi.
Tapi, jika kupikirkan lagi, pastilah karena uangnya habis untuk membeli susu formula adik. Jika habis, kalengnya mungkin dibuang seperti aku. Tergolek di tong sampah, diserang panas, hujan berkepanjangan kemudian berkarat tak berdaya. Dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang peduli kecuali dua hal: ditemukan pemulung atau berpindah tangan pada anak-anak yang amat ingin bermain karena sesal tak mendapat sekantong permen dari ibunya.
Apa yang terjadi kemudian?
Satu. Jika pemulung menemukanku maka aku akan masuk ke karung goni palstik yang baunya busuk seperti nasi basi yang sudah berjamur seminggu. Aku akan bercampur tertumpuk, berdesakan dengan puluhan kaleng dan botol lain. Entah darimana pemulung itu mendapatkan mereka. Lengkap sudah nasibku ini. Sudahlah tak bertutup, karatan, berkumpul pula dengan sekumpulan kaleng, botol yang baunya macam-macam lagi. Rasanya lebih baik di tong sampah. Meski ada sampah-sampah lain namun jelas akulah yang berbeda. Lain dari yang lain. Jadi, aku masih bisa berbangga diri seperti dulu toh? Meski tempatnya kini sudah jauh, sangat jauh berbeda.
Dua. Jika aku berada di tangan anak-anak itu maka mereka akan menjadikanku apa saja. mainan mereka, tapi bentuknya apa saja. Karena imaji dan fantasi anak-anak memang tak terbatas. Tak ada belengggu dan tak ada habisnya. Kadang orang dewasa sekalipun tak mampu menyamai bahkan berpikir serupa, berimaji sejalan. Terlalu banyak yang dipikirkan orang dewasa daripada sekadar berfantasi. Apa gerangan? Hidup mereka? Hidup ini tak usah dipikirkan, tapi dijalani! Tapi mana mau mereka mendengar, nasihat itu ibarat celoteh anak kecil pikirnya. Tak perlu diresapi. Angin lalu saja. Mereka merasa paling tahu tentang hidup padahal anak kecil sekalipun mampu memberikan pencerahan pada mereka. Terlebih-lebih cara untuk terbang, bebas dari belenggu, lepas berimajinasi. Tapi dasar orang dewasa. Seringnya merasa lebih pintar.
Anak-anak itu bisa menjadikanku apa saja. Kaleng untuk penggulung benang layang-layang mereka, mereka pukul-pukul saja dengan kayu sehingga berbunyi bising diiringi dengan nada nyanyian mereka. Asalkan mereka jangan nyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Kasihan, mereka masih kecil, biarkan saja tetap berada dalam dunianya yang penuh warna dan tawa. Tak perlu merasakan kesedihan, kepedihan orang-orang dewasa yang galau karena cinta.
Atau, mereka juga bisa mendirikanku di tengah jalan dan kemudian mereka tembakkan gundu mereka ke arahku sehingga aku berbunyi bising lagi. Tawa mereka pun pecah. Senang telah berhasil menembakku tepat sasaran. Layaknya koboi yang tengah duel dan berhasil menumbangkan lawannya. Senyum seringai menghiasi wajah mereka. Meski ada beberapa anak yang tak berhasil menembakku dengan tepat mereka akan tetap tertawa, tak berkecil hati, karena masih ada kesempatan, masih ada cara lain untuk benar-benar menembakku dengan tepat. Permainan inilah yang mereka tertawakan. Apapun hasilnya, mereka masih tergelak bersama, sambil menikmati sore yang perlahan senja. Menunggu akhirnya mereka dipanggil ibu pulang untuk mandi.
Lalu bagaimana dengan nasibku? Bisa jadi aku akan mereka biarkan berada di tengah jalan sampai ada orang dewasa yang mengenyahkanku kembali ke peraduanku: tong sampah. Hingga esok aku entah akan hilang di balik karung goni plastik sang pemulung atau malah kembali menjadi mainan bagi anak-anak itu.
Akan jadi apa aku besok? Itu masih misteri. Perjalanan masih panjang. Jangan cepat berkecil hati. Putus asa masih jauh. Kejutan masih menantiku esok. Dan begitupun kehidupan anak-anak itu. Orang-orang dewasa itu.
Aku kosong. Akulah kaleng susu bekas yang berkarat tergolek di tong sampah. Aku yang masih terdiam kaku ini kemudian dengan indahnya melayang, masuk ke dalam ruang kosong dalam diriku sendiri. Takut-takut aku pelan mengintip dari balik bibir kaleng yang terbuka. Tutupku entah kemana perginya. Barangkali hilang terbang saat aku dibuang oleh seorang ibu muda yang tadinya membeliku. Kau dapat bayangkan ketika aku berada di rak sebuah swalayan itu. Aku dengan cantik dan mengkilap berkilau berjejer dengan kaleng susu yang lain—ada yang serupa, ada yang tidak—begitu gagah di balik kaca itu. Ya, kau tahu kan tempatku berbeda dari produk lainnya yang memenuhi rak-rak rapi di swalayan itu. Kalau kau perhatikan, aku ini biasanya diletakkan dekat dengan tempat kasir. Jelas saja, tak semua tangan dapat menyentuhku, apalagi memasukkan aku dalam salah satu keranjang belanjanya. Tentu saja hanya tangan-tangan terpilihlah yang mendapatkan aku. Walaupun aku bukan yang satu-satunya berada di rak-rak itu, setidaknya aku patut berbangga diri.
Namun kini aku kosong. Habis sudah masa jayaku. Zaman keemasanku. Bayi mungil itu begitu lahap dan dengan cepat menghabiskan bubuk susu yang kukandung sehingga aku terbuang kini. Inilah nasibku si kaleng tua. Meskipun begitu, paling tidak aku masih bisa melayangkan pikiranku ke dalam diriku sendiri. Tak peduli jika hanya kosong yang kulihat. Karat yang tampak di sekeliling dindingku. Malah kini aku tanpa tutup. Jika hujan maka air hujan memenuhiku. Jika panas mendera kau tahu rasanya. Air hujan yang tertampung itu perlahan meluap dan hanya menyisakan karat padaku.
Oh, aku berpikir... dan melayang..
Bagaimana jika aku tanpa sengaja ditemukan sekelompok anak kecil yang tengah bermain karet gelang, dililit-lilitkan di jari-jari mereka hingga membentuk rumah, panah, atau bahkan kuburan. Ketika menemukan aku, si kaleng kosong berkarat ini, terlihat jelas wajah mereka seperti mendapatkan sekantong permen tak diduga dari orang entah siapa. Betapa girangnya mereka karena permen itu bukanlah sesuatu yang bisa mereka dapatkan saban hari. Terlebih lagi bukan sebiji dua yang mereka dapatkan, sekantong! Bayangkan sekantong! Kesenangan itu tentu sering menjadi angan-angan belaka bagi mereka anak kecil karena sang ibu yang tak izinkan untuk membeli, lalu bagaimana pula cara mereka merasakan nikmat manisnya bergoyang di lidah. Entah karena harganya yang mahal (sebab kemasannya yang mewah selayaknya aku dahulu. Kau tahu kan betapa mahalnya aku?), atau karena ditakut-takuti akan sakit gigi.
Tapi, jika kupikirkan lagi, pastilah karena uangnya habis untuk membeli susu formula adik. Jika habis, kalengnya mungkin dibuang seperti aku. Tergolek di tong sampah, diserang panas, hujan berkepanjangan kemudian berkarat tak berdaya. Dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang peduli kecuali dua hal: ditemukan pemulung atau berpindah tangan pada anak-anak yang amat ingin bermain karena sesal tak mendapat sekantong permen dari ibunya.
Apa yang terjadi kemudian?
Satu. Jika pemulung menemukanku maka aku akan masuk ke karung goni palstik yang baunya busuk seperti nasi basi yang sudah berjamur seminggu. Aku akan bercampur tertumpuk, berdesakan dengan puluhan kaleng dan botol lain. Entah darimana pemulung itu mendapatkan mereka. Lengkap sudah nasibku ini. Sudahlah tak bertutup, karatan, berkumpul pula dengan sekumpulan kaleng, botol yang baunya macam-macam lagi. Rasanya lebih baik di tong sampah. Meski ada sampah-sampah lain namun jelas akulah yang berbeda. Lain dari yang lain. Jadi, aku masih bisa berbangga diri seperti dulu toh? Meski tempatnya kini sudah jauh, sangat jauh berbeda.
Dua. Jika aku berada di tangan anak-anak itu maka mereka akan menjadikanku apa saja. mainan mereka, tapi bentuknya apa saja. Karena imaji dan fantasi anak-anak memang tak terbatas. Tak ada belengggu dan tak ada habisnya. Kadang orang dewasa sekalipun tak mampu menyamai bahkan berpikir serupa, berimaji sejalan. Terlalu banyak yang dipikirkan orang dewasa daripada sekadar berfantasi. Apa gerangan? Hidup mereka? Hidup ini tak usah dipikirkan, tapi dijalani! Tapi mana mau mereka mendengar, nasihat itu ibarat celoteh anak kecil pikirnya. Tak perlu diresapi. Angin lalu saja. Mereka merasa paling tahu tentang hidup padahal anak kecil sekalipun mampu memberikan pencerahan pada mereka. Terlebih-lebih cara untuk terbang, bebas dari belenggu, lepas berimajinasi. Tapi dasar orang dewasa. Seringnya merasa lebih pintar.
Anak-anak itu bisa menjadikanku apa saja. Kaleng untuk penggulung benang layang-layang mereka, mereka pukul-pukul saja dengan kayu sehingga berbunyi bising diiringi dengan nada nyanyian mereka. Asalkan mereka jangan nyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Kasihan, mereka masih kecil, biarkan saja tetap berada dalam dunianya yang penuh warna dan tawa. Tak perlu merasakan kesedihan, kepedihan orang-orang dewasa yang galau karena cinta.
Atau, mereka juga bisa mendirikanku di tengah jalan dan kemudian mereka tembakkan gundu mereka ke arahku sehingga aku berbunyi bising lagi. Tawa mereka pun pecah. Senang telah berhasil menembakku tepat sasaran. Layaknya koboi yang tengah duel dan berhasil menumbangkan lawannya. Senyum seringai menghiasi wajah mereka. Meski ada beberapa anak yang tak berhasil menembakku dengan tepat mereka akan tetap tertawa, tak berkecil hati, karena masih ada kesempatan, masih ada cara lain untuk benar-benar menembakku dengan tepat. Permainan inilah yang mereka tertawakan. Apapun hasilnya, mereka masih tergelak bersama, sambil menikmati sore yang perlahan senja. Menunggu akhirnya mereka dipanggil ibu pulang untuk mandi.
Lalu bagaimana dengan nasibku? Bisa jadi aku akan mereka biarkan berada di tengah jalan sampai ada orang dewasa yang mengenyahkanku kembali ke peraduanku: tong sampah. Hingga esok aku entah akan hilang di balik karung goni plastik sang pemulung atau malah kembali menjadi mainan bagi anak-anak itu.
Akan jadi apa aku besok? Itu masih misteri. Perjalanan masih panjang. Jangan cepat berkecil hati. Putus asa masih jauh. Kejutan masih menantiku esok. Dan begitupun kehidupan anak-anak itu. Orang-orang dewasa itu.
Saturday, February 26, 2011
Perahu Kertas by DeeMy rating: 5 of 5 stars
Saya tidak tahu harus memberikan berapa bintang untuk karya Dee yang satu ini. Kalau bicara ingin, dari awal saya tahu akan beri bintang lima. Tapi kalau bicara harus...., sepertinya akan berbeda.
Saya meragu. Saya jadi segalau ini. Disatu sisi, saya sudah langsung jatuh cinta ketika membaca Rectoverso—karya Dee yang pertama saya baca. Yang artinya, saya percaya karya Dee sempurna. Membuat saya tidak hanya penasaran dengan ceritanya, tapi juga masuk ke dalamnya dan merasakan. Tapi di sisi lain, Perahu Kertas ini bukanlah sesuatu yang sebagaimana saya harapkan. Bukan berarti saya kecewa. Tidak begitu. Karena saya suka tokohnya. Karakter mereka begitu kuat. Saya suka konfliknya. Emosi mereka yang bermain dalam novel ini naik turun, sesekali emosi saya juga. Entah karena turut merasakan emosi mereka juga atau malah karena saya merasa tak menemukan apa yang saya cari, apa yang saya mau dalam karya Dee ini. Saya suka bahasanya. Ringan namun berisi. Dengan komposisi manis yang pas dan menarik hati untuk membacanya.
Hmmm, kalau ceritanya.... Mungkin sebagian besar orang bisa bilang banyak terjadi kebetulan dalam alur ceritanya. Tapi saya percaya itu bukan kebetulan. Karena meski dalam cerita, dunia khayal—fiksi sekalipun, tidak ada yang namanya kebetulan. Saya lebih setuju jika itu semua adalah takdir. Bagaimanapun, dari kacamata saya, penulis adalah Tuhan bagi skenario ceritanya. Ia berhak untuk menentukan bagaimana alur cerita itu akan bergulir. Siapa akan bertemu siapa, dan bagaimana itu terjadi, dan seterusnya. Bahkan di dunia ini, sehelai daun yang jatuh pun ada sebab. Maka saya tidak percaya pada kebetulan. Meski itu hanya dalam sebuah cerita. Saya percaya itu takdir.
Perlu saya akui, saya tidak begitu suka dengan ceritanya. Sempat membuat saya agak bosan dipertengahan cerita. Bukan karena alurnya yang sepertinya sudah dapat ditebak, hanya saja entah kenapa saya tidak benar-benar bisa menikmatinya, tidak sungguh bisa ikut merasakannya. Tidak secara total. Di beberapa bagian, ya. Tapi tidak seluruhnya. Padahal, saya tahu saya memang terpikat dengan bahasa dan gaya ceritanya. Saya tidak pernah sangsi dengan bahasanya yang begitu memikat hati.
Terlepas dari itu semua, walaupun saya tidak secara total jatuh cinta pada Perahu Kertas ini tapi saya tetap cinta dengan segala spirit dan jiwa yang terdapat pada keseluruhan novel ini. Dan pada akhirnya saya tahu bahwa kecintaan saya ini mengalahkan faktor-faktor kecil dari ketidaksukaan saya sehingga saya tahu saya akan berikan lima bintang untuk novel ini. Namanya saja sudah cinta, kalaupun ada yang kurang sedikit itu bukanlah masalah. Karena perkara mencintai bukanlah terletak pada kesempurnaan, justru bagaimana mencintai ketidaksempurnaan itu. Seperti itu pula kiranya perasaan cinta saya pada novel ini.
Dan saya ingin melepaskan perkara “harus” atau “ingin” itu. Karena namanya saja sudah cinta. Cinta itu menerima meski tak sempurna.
Cheers. :D
View all my reviews
Dengarlah Nyanyian Angin by Haruki MurakamiMy rating: 4 of 5 stars
Saya tidak ingin memaksa diri untuk mengerti bagaimana kisah ini. Kemudian, tak perlu juga mendesak keinginan untuk memahami bagaimana cerita ini bergulir dengan sederetan tokoh, alur, dan konflik yang ada di dalamnya. Hanya rasakan saja. Merasakan justru lebih baik untuk saya. Tidak harus bertanya mengapa tiba-tiba ceritanya begini, atau mengapa alurnya begitu. Saya hanya ingin merasakan apa yang terjadi, menyimak dengan seksama, dan mendengarkan dengan baik, karena “Aku” sebenarnya sedang ingin berbagi, bercerita.
Bagi saya, cerita ini adalah kenangan. Dan kenangan adalah salah satu hal yang berharga yang dimiliki dan untuk dapat disimpan. Bahkan akan lebih baik jika itu bisa dibagi. Dan alangkah senangnya jika ada seseorang yang dengan senang hati bersedia mendengarkan. Menjadikannya pula sebagai kenangan bagi dirinya pribadi. Terlebih lagi ketika tidak ada sikap menghakimi, ini salah itu benar, menyudutkan, apalagi memojokkan.
Saya suka dialognya. Terasa singkat, jelas, namun sarat makna. Meskipun harus saya akui bahwa segala makna yang tersirat di dalamnya belum sepenuhnya saya pahami. Oh, sepertinya tidak perlu saya pahami untuk saat ini, karena tidak semua pertanyaan dalam benak saya harus dapat jawabnya saat ini. Atau mungkin tidak akan saya temukan jawabnya. Tidak masalah. Setidaknya saya mencoba merasakan.
Sepertinya hanya ini yang dapat saya ungkapkan. Dan begitulah.
View all my reviews
Sunday, January 30, 2011
Empat Musim, 16 Cerita

Hmmm...
Ternyata memang tidak biasa. Bertemakan cinta dengan jalan cerita yang sederhana, tapi toh ternyata endingnya tidak seperti yang disangka. Banyak cerita yang mengejutkan. Ada yang bikin saya jadi senyum-senyum sendiri, tapi ada juga bikin hati saya ngenes. Yang jelas, cerita-cerita dalam buku ini terasa begitu jujur dan mengalir.
Ada Adhitya Mulya. Penulis yang saya kenal familiar lewat novel “Jomblo”-nya. Tulisannya kocak dan menghibur. Tapi kadang juga terasa aneh. Seperti cerita “Scene 40 Yang Bermasalah Itu”. Bagi saya cerita itu aneh. Sebenernya dia ingin melucu atau ngehoror? Aduh, saya sempat ingin melewatkan membacanya tapi, ya, tanggung juga. Saya tidak habis pikir kenapa ada salah satu tokoh menyeramkan—yang sangat tidak ingin saya sebutkan namanya—yang sering dimunculkan dalam cerita itu. Saya tidak suka horor dan mari kita skip saja. Bygones.
Saya suka cerita “Pernah Jadi Aku?” yang ditulis Okke ‘Sepatumerah’. Benar-benar terasa seperti ungkapan dari hati. Saya jadi berpikir bahwa memang banyak orang menutupi sisi psikologis yang ada dalam dirinya, sebenar-benar perasaannya, dan juga amarahnya. Dan yang bisa dia lakukan adalah mencari alasan pembenaran atas semua yang terjadi terhadap dirinya. Atas bagaimana orang-orang menilainya, memperlakukannya. Tapi sayang, ketika alasan itu sudah tak dapat lagi memberikan pembenaran bahkan peneguhan maka emosi dan amarah itu menyeruak, berteriak, meraung. Itu yang saya rasakan pada seorang “Cassie”, tokoh dalam cerita ini. Saya jadi ingin mengutip:
“Kalo gitu, lo nggak tau apa-apa sama sekali. Gue pernah. Selama 24 tahun gue hidup, gue diperlakuin kayak gitu. Selama ini gue berusaha nerima dan menganggap ringan semuanya. Tapi sekarang gue udah muak.”
Yap. Menerima begitu saja apa yang terjadi sepertinya bukan hal yang mudah dilakukan. Mungkin. Tapi intinya saya suka cerita ini.
Saya juga terpaut oleh cerita “Saya, Dia, dan Samuel Morse” yang ditulis Rizki Pandu Permana. Ooh, sebuah cerita perkenalan yang manis. Lebih deskriptif. Percakapan yang terjadi antara tokoh yang ada terlihat biasa saja, tapi jelas jujur dan bermakna. Saya juga ingin katakan cerita ini so sweeeeet... hehe...
Tapi hati saya mendadak terhempas ketika membaca “Sekeping Hati yang Tersisa”. Dari judulnya saja sudah bikin sedih. Kalau bisa saya andaikan, cerita ini sepertinya terwakili dengan lagu “Yang Terlewatkan”-nya Sheila on 7. Hmmm....
So, 16 cerita dalam buku ini menyajikan cerita cinta yang kalau saya bilang... sederhana tapi berbeda. Mantep deh!
Subscribe to:
Posts (Atom)