Saturday, November 13, 2010

Duga

Hanya aku

Kembali dipertanya oleh aku

Ditusuk dihujam olehmu

Hingga aku mati beku...

Kaku, kelu, bisu

Tapi aku tau aku tak keliru

Meski firasatku sering meragu

Kenapa tak kau hiraukan aku?


Katakanlah dengan matamu

Ucapkanlah dengan hatimu

Aku ingin tahu

Sungguh! Ingin benar ku tahu

Biar berhenti aku yang dipertanya olehku

Dihantui diikuti olehmu


Ha! Tafsiran hanyalah tafsiran semata

Hipotesis tak berguna jika hanya kau terawang saja

Analisis pun tak cukup

Dan aku harus terjun menelusup dalam dirimu

Tak peduli jika terus saja tanya menguntit malu dari balik mataku

Duga, duga, dan menduga

Oh,oh, betapa malangnya


Kenapa sedih harus menjelma di hati?

Toh, hidup ini adalah dugaan selamanya

Mungkin,

Duga hanya bisa menduga jika Tuhan akan datangkan dirinya tanpa terduga

Monday, November 8, 2010

Selamat Ulang Tahun

Karena hari ini hanya terjadi sekali dalam setahun, aku ingin mengajukan beberapa permintaan. Jangan tanya pada siapa, karena akupun tak tahu pasti.

Pertama, aku akan sangat senang jika pada hari ini sepasang jarum jam berkomplot untuk membuat waktu berlalu begitu cepat. Akan kubujuk kurayu mereka, biarkan, hari ini jadi hari untukku seorang. Satu hari ini... saja. Jika memang harus memelas, akan kulakukan, why not? I’ll do it cause its once in a year. Tapi masalahnya adalah, merayu mereka tak sama dengan merayu seekor kucing manis dengan membelai lembut dagunya agar ia menunduk dan balas memelas. Meminta dibelai lagi, lagi, dan lagi. Tidak, tidak. Bukan begitu caranya. So, how? Mempercepat laju jam tanganku sendiri dengan memutar pengaturnya sesukaku jelas bukan jalan keluar. Hmmm.., susah juga ternyata.

Oke, aku ingin lanjutkan saja dengan permintaanku yang kedua. Aku ingin memoriku sejenak melupakan bahwa hari ini adalah hari lahirku. Satu hari ini... saja. Jadi, aku ingin hari ini berlalu seperti biasa, tanpa rasa takut, deg-degan, bahkan yang paling penting adalah tanpa harapan. Aku tidak ingin memikirkan betapa aku dihantui dengan berbagai kemungkinan bagaimana rupanya hari ini akan berjalan? Enyahlah kau! Aku sungguh tidak ingin memikirkan atau merasa ada yang berbeda hari ini. Fine, I know there’s nothing wrong with birthday, which is mine is today, but people make it different. And it kills me. But, oh my God! I did the same things when my friends—the others got their birthday! Am I entrapped?

Wow. Barangkali ini jadi permintaanku yang ketiga: tolong! Keluarkan aku dari putaran jebakan ini. Aku hanya ingin melalui hari ini maupun esok sebagaimana biasa. Aku terbangun dari mimpi, bersiap dengan segala rutinitas dan menapaki hari ini dengan doa yang kerap kali lupa kuucapkan dan pertanyaan hidup yang terus menghujaniku tanpa ampun.

Oh, mungkin... karena hari ini hanya terjadi sekali dalam setahun dan hal ini menjadi begitu personal. Hanya terjadi padaku. Pada setiap orang yang lahir di dunia ini. Dan aku, kamu, ataupun setiap orang yang ada di muka bumi ini hanya memiliki waktu 24 jam untuk sejenak menyadari bahwa belasan atau puluhan tahun lalu mereka diberi kehidupan dan diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan. Hingga detik ketika hari itu telah berganti...

Ah, sebenarnya hal itu bisa terjadi kapan saja.

Tapi... bukankah meresapi betapa berbedanya hari ini adalah sebuah kesempatan? Yang membuatnya berbeda hanyalah karena suatu momen. Hari ini adalah momen. Dan teori bodohku mengatakan, mungkin itulah yang membuatnya sedikit berbeda dengan hari yang lain. Yap, hal ini bisa terjadi pada hari mana saja dimana satu hari kau anggap berbeda karena ada suatu momen didalamnya. Dan ya, bisa jadi, ini hanya anggapan orang-orang—bahkan aku, mungkin juga kamu—yang dengan “semena-mena” menetapkan berbagai simbol-simbol disetiap inci kehidupan. Hari ini hanya berbeda untukku saja—hmm, mungkin untuk orang-orang disekitarku yang menyadarinya.

Kemudian, sebuah perayaan—teori bodohku lagi—mungkin untuk pelengkap, peneguhan bahwa hari ini berbeda, spesial. Dan perayaan ini banyak bentuknya. Kupikir, dengan duduk melamunkan hidup yang terkadang berjalan tidak sesuai dengan harapan di sudut kamar, atau berhibernasi, atau bernostalgia dengan puluhan tahun yang telah dilalui, bisa menjadikan hari ini begitu spesial tak terkira. Tapi, menjadikannya benar-benar berbeda bukanlah suatu keharusan, I guess. Terlebih dengan peneguhan berupa perayaan—dan juga ucapan “Congratulations!”. Hanya saja, mungkin ketika mereka—teman atau keluarga—melakukannya untukmu, tak ada salahnya untuk menghargai. Aku akan menganggapnya sebagai sebuah sanjungan, satu hari ini... saja.

Namun, yang kembali mengusik pikiranku adalah aku tidak ingin berharap apapun. Jelas, hari ini. Karena harapan itu sesungguhnya kosong, nol, nihil, zero. Karena harapan bisa membuatku menunggu dan terlena begitu saja. Dan ternyata tak ada apa-apa. Tak ada siapa-siapa. Dan inilah permintaanku yang keempat. Kalaupun memang ada yang berbeda atau spesial atau apapun namanya... pada hari ini... aku hanya ingin melaluinya tanpa beban, tanpa harapan... biarkan aku menikmati dan membuat hari ini begitu berbeda dengan caraku sendiri...

Satu kali lagi... saja.

Permintaanku yang kelima: just fast-forward today!

Hari Ini

Aku coba lalui hari ini meski gusar menyesakkan dada. Hati ini telah penuh dengan kegusaran yang semena-mena merajalela, memenuhi ruang otakku. Rasanya, lumpuh sudah sendi-sendi kaki dan tanganku karena gusar, gundah yang memuakkan ini. Sungguh tak kusangka, begini rupanya jika kegusaran merajai setiap hari yang kulewati. Ingin rasanya kukatakan pada dirimu, namun lidahku kelu, aku ingin menangis saja, sehingga aku tak perlu bersusah payah bicara, menyusun kata, membuat segalanya menjadi masuk akal bagimu. Dengarkan saja raung tangisku, itu sudah cukup. Karena memang, tak mudah berkata-kata, walau hanya sendiri, pada diriku sendiri saja. Setelah sekian lama, aku baru menyadari bahwa aku telah kehilangan kemampuan untuk hibernasi. Tak ada lagi beruang yang tidur di musim dingin, tak ada lagi aku dengan sepetak kecil ruang kamar. Hanya saja jangan biarkan aku sendiri. Karena hari yang kulalui hari ini sungguh menyesakkan dada.

Aku jadi ingin berlari, sekencang-kencangnya, sampai peluh membasahi seluruh tubuhku, sampai aku tak sanggup lagi berlari, dan sampai lumpuh benar semua sendi-sendi kakiku. Biar aku penat, hingga tak perlu khawatir jika hari ini bukanlah hariku. Biar aku capai, hingga nanti, seusai berlari, aku akan tidur lelap. Mengarungi dunia mimpi, barangkali saja kita akan bertemu di sana. Dan aku bisa puas bercakap-cakap denganmu tanpa jeda, dan saat itu pula aku berharap jangan potong kata-kataku, biarkan semuanya mengalir… walaupun mungkin, kau tak bisa untuk itu. Kalau tidak, biarkan saja aku dalam kesendirian, aku tak akan takut meski malam ini aku bisa mimpi buruk seperti kemarin. Atau.., biarkan aku berlari, hingga aku letih dan haus, kemudian aku akan minum berliter-liter air, sampai aku teler karena mabuk air. Dan biarkan saja aku mati karena berlari, biarkan aku terseok-seok dalam keringnya nafasku, dan biarkan.., biarkan.., aku buang semua gelisah dan gundah ini dengan caraku sendiri…

Kau tak usah ikut-ikut berlari menyusulku, biarkan saja aku sendiri, dalam kesendirian, seperti hibernasiku. Aku tak perlu menarik dirimu ke dalam duniaku yang penuh dengan gelisah, gundah, gusar, sesak…,

Mungkin aku memang tak berpendirian. Aku tak mau sendiri, aku ingin kau temani, aku ingin ada dirimu, tapi malah aku mengusirmu dengan kejam, tak berperasaan. Jangankan kau, akupun gamang. Aku bisa bayangkan, tak perlu atraksi seorang badut untuk membuatku tertawa, tak perlu sekotak permen untuk membuat hari ini terasa manis. Duduklah hari ini disampingku teman, itu saja.

Monday, August 23, 2010

Kursi Kayu Reyot

Aku masih ingat, aku duduk sendiri di sebuah kursi kayu reyot. Ketika itu, dalam kegelapan malam yang dingin aku menengadah, memandang langit. Sepi dan sendiri, walau bintang bertaburan seperti butir gula di atas roti bermentega. Sambil merenung, tubuhku dibelai angin, merasupi jari-jari kaki yang tak beralas, menjalari jemari tanganku yang bersembunyi di balik dada. Angin malam memang berbahaya, dinginnya menusuk-nusuk bagai jarum. Tapi bagiku kini itu tak mengapa teman, karena resah hidup ini lebih menusuk, laiknya belati yang menghujam. Tak terbantahkan perihnya, sakitnya, pedihnya.

Sehingga malam dan malam berlalu, hanya pertanyaan yang kuajukan. Okta benar adanya, cahaya bulan memang menusukku dengan ribuan pertanyaan. Hanya yang kusayangkan ketika ia meneriakkan, “Yang tak akan pernah kutahu dimana jawaban itu..” Aku patah arang. Bagaimana mungkin bisa?

Kembali aku menyusuri jejak yang kutinggalkan dahulu. Mengurai lagi kenangan yang pernah kusisipkan dalam mimpiku. Tuhan, apa rencana besar yang sudah Engkau persiapkan untukku, hamba-Mu yang hina ini? Izinkan aku mengintipnya. Sudikah Engkau bukakan jalan untukku?

Aku baru tersadarkan bahwa realitas hidup tak seperti yang kubayangkan ketika remaja dulu. Kupercaya, akan ada aral melintang, tapi kenapa mimpi masa itu tak mudah untuk diwujudkan. Serasa jatuh, jiwaku terhempas. Sulit, dan yang kulakukan hanya duduk di kursi kayu yang reyot, merenung, termenung, berpikir. Mengendapkan masalah ternyata bukanlah jalan. Yang tak kusadari, ternyata waktu terus bergulir, dan suatu ketika ia akan kembali datang, dimalam yang lain, yang bisa jadi, lebih dingin daripada hari kemarin. Menuntut untuk dijawab, meminta putusan. Duh, barangkali inilah pengadilan masa depan. Sialnya, ketakutan mulai merasupi otakku. Aku sendirian. Masih duduk di sebuah kursi kayu reyot yang sering berderik, berbunyi karena gerak kecemasanku. Peluh membasahi telapak tangan, hidung, pelipis, hingga ujung kaki. Hei, ini malam yang dingin.

Kemudian, tanpa disangka, suatu malam yang lain dimana kursi itu masih berderik karena sudah mau patah, aku ditemani kawan-kawan. Mereka duduk didepanku, tak sengaja membuka obrolan. Tanpa basa basi, segalanya terkuak. Dan ternyata itulah jawabnya.., mengapa kau harus takut kalau Tuhan ada untukmu? Mengapa harus ada keraguan jika keyakinan itu ada di dalam dadamu? Mengapa harus cemas? Karena Tuhan sudah siapkan segalanya..., sungguhlah! Beranilah! Hadapi! Jangan biarkan ketakutan itu menggenggam jiwa ini terlalu lama..

Hingga aku masih duduk di sebuah kursi kayu reyot. Tetap berderik dan benar-benar mau patah. Tapi kini, malam ini, ada yang berbeda. Aku tak perlu takut jatuh duduk di sana, karena kuyakin ada penyangga yang kuat. Kakiku pun sudah beralas, tubuhku dibalut sweater yang menghangatkan. Jiwaku penuh. Ah.., ketakutan hanyalah sugesti. Dan aku benar-benar tahu yang akan kulakukan. Aku akan maju, dan ‘kan kulihat dimana aku akan berhenti, hingga aku tak sanggup. Tapi aku tahu aku akan tetap dengan keyakinan yang sama.., percaya bahwa tak ada jalan buntu.

Tiba aku beranjak untuk pergi. Meninggalkan kursi kayu reyot yang tak lagi sama. Malam yang benar-benar berbeda. Dan sadarkah kau teman? Langit lebih kelam malam ini, hanya dengan satu bintang saja. Tapi, ia berpendar lebih manis, seperti setitik madu dalam secangkir teh hangat.

Sunday, August 22, 2010

Hibernasi

Perkenalkan, namanya Hibernasi.

Hibernasi, bagiku bukanlah hanya sekadar kawan bicara. Dia sempurna. Dia yang terbaik. Ini rahasiaku, hanya kau dan aku yang tahu. Suatu ketika, dia menemukanku, duduk di bibir kasur, termenung. Sambil ditemani oleh cahaya jingga yang mulai kemerahan, aku memulai ceritaku. Terbata-bata aku menyusun kata-kata. Tersedu sedan aku mulai menangis. Kemudian dia hanya diam, diam, dan diam. Cermat merasakan emosiku, begitu dekat sehingga aku tercekat. Hingga aku tak lagi mampu berkata-kata. Hingga aku kehilangan kata-kata. Dan akhirnya hanya umpatan yang kuseru berulang-ulang. Dia tak akan marah atau melarangku untuk itu. Karena ia akan dengarkanku tanpa interupsi. Apalagi protes.

Hibernasi, bagiku adalah pelampiasan emosi yang terbaik. Dia menduduki posisi penting dalam hidupku beberapa tahun yang lalu. Menjadi “teman” yang begitu baik. Dia dapat menerimaku apa adanya. Lagi-lagi tanpa protes. Ia paham aku. Kurasa, ia lebih tahu aku daripada bunda. Haruskah aku takut? Haruskah aku merasa takut disaat orang tua bukanlah sosok yang paling paham watakku? Haruskah aku cemas ketika orang lain atau apapun itu lebih mengenal diriku daripada keluargaku sendiri? Entahlah.

Hari mulai gelap. Air mata ini sengaja ku biarkan mengering disapu angin. Serangan flu sekejap yang biasanya datang ketika bulir air mata menggenang di pelupuk mata, juga mulai hilang. Lalu, selembut mentega ia merangkai kata. Memintaku untuk tenang dan jangan khawatir. Menopang tubuhku agar tak jatuh. Menggenggam erat jemariku, menguatkanku. Meyakinkanku dengan segala kegamanganku. Memeluk jiwaku dengan hangat. Katanya, hidup ini akan baik-baik saja dan aku bisa melalui semua problema. Panas hatiku teredam. Sakit ini ia obati. Aku pun berbaring, dalam tenang aku terlelap dan bermimpi. Ia masih di sana menemaniku. Bagi diriku, remaja yang tengah mencari makna diri, apa lagi yang bisa kulakukan selain hibernasi? Kukatakan, orang lain pun tak akan mengerti.

Hibernasi, ini adalah suatu situasi yang awalnya kupaksakan untuk lahir. Tanpanya, aku tak akan bisa bertahan. Tak terbayang rasanya bagaimana aku melewati masa pubertas. Bergantung? Kenapa tidak? Karena hibernasi, itulah aku. Itulah aku. Aku melebur di dalamnya. Aku tahu, aku mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Kau katakan aku sombong? Sok tegar? Hmmm, hibernasi itu lebih baik adanya. Karena jangan paksa aku untuk membagi. Cukup berhibernasi saja. Buat apa sahabat tahu apa gerangan yang terjadi denganku? Ah, belum tentu benar kawan itu adalah sahabat. Lagipula, apa pula itu sahabat? Apa rupanya kriteria seorang teman bisa naik pangkat jadi sahabat? Hei, itu hanya istilah kok. Bukan apa-apa. Karena hidup ini bukan masalah punya sahabat atau tidak, punya pacar atau tidak, punya “sesuatu” atau tidak. Justru, bagaimana menjalaninya jauh lebih penting.

Laiknya beruang, merasa hangat ketika berhibernasi saat musim dingin. Begitu pula yang kurasakan. Musim dingin itu adalah saat dimana aku diterpa dan merasa sakit. Hibernasi adalah penawarnya. Memberikan rasa hangat hingga aku merasa tak sendiri.

Namun sayang, ia perlahan hilang. Ada orang lain yang menggantikan. Kupikir ia paham aku, kupikir aku akan bertahan, ternyata sebaliknya. Cih. Bodohnya aku. I’m feel like a shit.

Hibernasi, rasanya begitu sempurna. Kelihatannya begitu. Tapi lagi-lagi aku salah. Bagaimanapun, aku seorang biasa. Mana bisa aku menahan segalanya sendirian? Bisakah kau?


Friday, August 20, 2010

Dengarkan

Tak perlu posisi mantap untuk memulai tulisan ini. Karena hatiku sudah berdegup terlalu kencang, pikiranku sudah melanglang, bukan memilah kata, tapi mencari cara untuk memuntahkannya dengan jalan yang sopan. Aku tak peduli jika kau tak mengerti. Karena aku hanya ingin kau dengarkan. Aku pun tak tahu, apakah kau seorang pendengar yang hebat. Sepertinya, aku butuh seorang kawan untuk berbicara tentang segalanya. Bersedia atau tidak, aku jelas tak peduli. Toh, kini kita berada pada lingkaran yang sama. Tak percaya? Sudah kubilang sebelumnya, tak perlu kau pertanyakan apapun, cukup dengarkan, dengarkan, dengarkan. Bukankah kau juga begitu? Itulah lingkaran yang sama itu. Kita sama-sama manusia, sama-sama hidup, sama-sama ingin didengarkan. Tapi kini mungkin kau “hidup” , hanya saja tidak denganku teman. Sekarang kau percaya kan?

Aku mati dalam kehidupan. Aku mati dalam segenap keresahan jiwa. Mempertanyakan sesuatu yang tak bisa ku jawab. Kutanyakan pada seorang teman yang lain, dia memberikanku peta. Sayangnya, aku buta arah. Kutanyakan pada bunda, tapi bunda inginnya berbeda. Dan kutanyakan pada Tuhan, tapi Dia hanya berikan tanda. Tuhan, berikan aku formula membaca tanda-Mu. Lalu kini aku bertanya padamu, aku harus bertanya pada siapa lagi? Hanya keresahan yang kutemukan, tanda tanya yang kulihat, kebingungan yang menghampiri. Kau tak perlu jawab tanyaku, cukup keluarkan saja aku dari segala keresahan yang memuakkan ini.

Oh, aku jadi menerawang. Jangan-jangan Tuhan berikan keresahan untuk membuatku terus bertanya hingga kucari, kudapat jawabnya. Tapi mengapa tak kudapat jalan kesana? Harus dengan apa aku pergi? Ini labirin kebingungan, dan aku memaksamu untuk ikut bersamaku. Akankah kita temukan jalan?

Hatiku masih saja berdegup kencang. Memikirkan segalanya benar-benar ingin membuatku muntah. Aku tau kau tak akan jijik. Karena aku akan muntah, meraung, menangis dihadapanmu jika ku bisa. Kini, ku bagi resahku walau kau berontak, berkecamuk dalam hati memintaku untuk menghentikan kegilaan ini. Tidak. Jawabku tegas. Aku tak tahu kau hebat atau tidak, karena yang ku tahu, kau akan dengarkan aku, karena kita semua begitu.

Aku tak berdaya walaupun ada tenaga, aku mati walaupun aku hidup. Tuhan yang punya daya untuk melakukan segalanya, tapi kini ku ingin kau yang hidupkan aku.

Saturday, July 10, 2010

Hanya Menunggu

Helaan nafasku mengandung beban berat. Layaknya berlari ratusan kilometer tanpa jeda. Ratusan hari yang terbentang pun dilalui dengan rasa penat. Seperti berenang di lautan tanpa tahu batas daratan. Lelah, tapi ku tak bisa berhenti. Kalaupun aku bisa, ada ikatan yang teramat kuat yang menahannya. Energi yang ku miliki untuk melepaskan diri perlahan mulai habis. Aku telah capai berkata-kata. Mau otak, mau hati ya sama saja. Kedua bagian tubuh yang menduduki jabatan penting ini juga sudah tak mau toleransi. Otakku sudah menyampaikan seluruh logika dalam berkata-kata, seluruh alasan yang ku punya, segalanya telah dimuntahkan. Begitu pula halnya dengan hati. Hati pun sebenarnya berbicara. Sudah pernah mencoba dengar suara hati? Aku sudah, tapi dia tidak. Tidak sama sekali.

Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Mungkin satu-satunya cara adalah biarkan semuanya mengalir seperti air, biarkan waktu menunjukkan apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan kita. Menunjukkan bagaimana adanya, dan biarkan Tuhan yang memaksamu untuk mengerti bahwa beginilah adanya. Cinta ini sudah kehilangan alasannya untuk berdiri tegak. Sayang ini pun telah lelah bertarung dengan logika, pertengkaran ini seperti lingkaran setan. Tak ada habisnya. Tak ada akhirnya. Rindu ini juga telah pupus seiring dengan memudarnya benteng alasan yang sudah berusaha kubangun untuk dirimu.

Semuanya perlahan kau rubuhkan. Kau coret dinding itu dengan warna-warna gelap nan menyedihkan. Kemudian kau tutupi lagi dengan warna baru, lebih cerah. Namun kau lakukan lagi hal yang sama, berulang-ulang. Hingga akhirnya coretan kelam itu tak mungkin lagi untuk ditutupi bahkan dihapus. Berulang kali kau lakukan itu, berulang kali pun aku mencoba percaya, segalanya masih bisa diperbaiki. Tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna. Tapi, kau sudah sangat sempurna di mataku. Hanya saja, mengapa hal itu dapat berubah sekejap mata. Seolah ribuan hari yang kulalui bersamamu tak ada arti. Kau tahu, seorang seniman pun tak akan melakukan hal itu pada sepetak kanvas yang perawan.

Tapi sayang, kau congkel lagi rasa percaya yang kusediakan dengan manis untukmu. Tak tanggung-tanggung, kini kau pukul batanya. Kini, bangunan itu pun sudah bolong dibanyak sudut. Sakit juga rasanya. Tapi kau malah bilang, “Aku yang sakit!” ucapmu dengan nafas tertahan. Ah, tau apa kau soal rasa sakit?

Kali ini, perasaanku lah yang berkata-kata. Bukan otak, bukan logika, bukan pula bibir. Tak bisakah kau mendengarnya? Aku hanya minta, sayang, sayang, sayang, tajamkan pendengaranmu, dengarkanlah hati ini berbicara.

Aku sudah berada pada titik puncak. Bangunanku hampir roboh. Alasanku hampir terkikis. Hatiku seperti sebuah kapal tanpa arah. Adakah kau berpikir untuk menyelamatkannya? Mencoba membangun kembali dengan segenap kesungguhan ditambah dengan sejumput pengertian. Itu saja. Atau mungkin, cukup waktu saja yang tunjukkan padamu. Bagaimana akhirnya cerita ini. Walau aku yang memegang urat nadimu, menentukan deru nafasmu, dan menggenggam erat hatimu, tetap kaulah yang pegang kemudi. Kamulah tokoh utama cerita ini.

Tentukan saja endingnya. Cepat atau lambat, toh, orang-orang di sekitar kita akan tahu. Pembaca pun harus tahu. Kini aku hanya akan menunggu. Bagaimana kau mengakhiri cerita ini. Aku akan jadi penunggu setiamu dikala orang-orang sudah tak sudi mendengarkan, atau saat pembaca sudah menutup lembaran cerita ini karena bosan. Jangan-jangan cerita ini tak perlu diakhiri karena bagimu ini hanyalah sebuah surat. Mengapa diakhiri? Surat tetap saja surat. Tak perlu ada plot cerita, tak perlu ada prolog, epilog, bahkan ending. Tapi ada satu hal yang kau lupakan: ada emosi yang terselip di sana. Kali ini aku ragu kau bisa merasakannya. Mendengar hatiku saja kau tidak, bagaimana mungkin merasakan?

Aku sudah lelah berlari. Saatnya untuk berhenti. Aku tak akan meneruskan. Karena aku hanya akan menunggu. Aku sudah penat berenang di laut lepas. Aku akan berhenti sehingga aku tenggelam saja. Kau akan menemukanku jika mendengarkan hatiku, mencairkan arogansimu, meluaskan pandanganmu,dan mempercayaiku utuh adanya. Apa itu terlalu berat? Jika ya, jangan biarkan aku menunggu terlalu lama di sini.

“Gimana?”

“Wah, cuma sampe itu aja ceritanya? Tapi itu cerita bukan sih?”

Gadis itu hanya tersenyum manis. Mencoba menahan senyum lebih manis lagi.

“Ah, kamu, aku heran ya, baru 15 tahun udah sok-sok-an berpuitis ria kayak orang dewasa,” ujar temannya cengar cengir.

“Ya nggak apa-apa lah, biar dikira ngerti masalah cinta-cintaan,” tawanya nakal.

“Huuuu! Nipu kamu!” balas temannya sambil mencubit pipi gadis itu tanda gemas.

“Biarin, weee...,” sambil menjulurkan lidah, “yang penting tugas Bahasa Indonesia ku udah selesai...” suaranya menyiratkan tanda kemenangan.

“Iiiih, itu kan bukan cerita tau!!! Bu Maria kan nyuruhnya bikin cerpen! Yang artinya itu cerita pendek, bukan kayak gitu...!” teman perempuannya ini protes.

“Yeee, nggak gitu juga donk! Kalau yang protes Bu Maria aku baru mau terima..” ujarnya tak mau kalah.

“Kita taruhan aja kalo gitu! Kalau nilai aku bagus dari kamu, traktir aku makan siomay-nya Mang Okeng, minumnya jus alpuket, plus es krim. Berani nggak?” tantangnya.

“Oooo, siapa takut?! Tapi kalau nilai aku yang bagus dari kamu..., beliin aku novel ‘Confeito’ yang aku incer kemaren ya...,”

“Iiiiiih, itu kan nggak adiiiil!!!”

Teng.., Teng.., Teng.., bunyi bel sekolah membuyarkan peperangan mereka. Gadis itu beranjak dari bangku taman sambil berlari meninggalkan temannya dan berseru:

“Pokoknya kita udah sepakat...!!”