Saturday, March 19, 2011
Si Kaleng
Aku kosong. Akulah kaleng susu bekas yang berkarat tergolek di tong sampah. Aku yang masih terdiam kaku ini kemudian dengan indahnya melayang, masuk ke dalam ruang kosong dalam diriku sendiri. Takut-takut aku pelan mengintip dari balik bibir kaleng yang terbuka. Tutupku entah kemana perginya. Barangkali hilang terbang saat aku dibuang oleh seorang ibu muda yang tadinya membeliku. Kau dapat bayangkan ketika aku berada di rak sebuah swalayan itu. Aku dengan cantik dan mengkilap berkilau berjejer dengan kaleng susu yang lain—ada yang serupa, ada yang tidak—begitu gagah di balik kaca itu. Ya, kau tahu kan tempatku berbeda dari produk lainnya yang memenuhi rak-rak rapi di swalayan itu. Kalau kau perhatikan, aku ini biasanya diletakkan dekat dengan tempat kasir. Jelas saja, tak semua tangan dapat menyentuhku, apalagi memasukkan aku dalam salah satu keranjang belanjanya. Tentu saja hanya tangan-tangan terpilihlah yang mendapatkan aku. Walaupun aku bukan yang satu-satunya berada di rak-rak itu, setidaknya aku patut berbangga diri.
Namun kini aku kosong. Habis sudah masa jayaku. Zaman keemasanku. Bayi mungil itu begitu lahap dan dengan cepat menghabiskan bubuk susu yang kukandung sehingga aku terbuang kini. Inilah nasibku si kaleng tua. Meskipun begitu, paling tidak aku masih bisa melayangkan pikiranku ke dalam diriku sendiri. Tak peduli jika hanya kosong yang kulihat. Karat yang tampak di sekeliling dindingku. Malah kini aku tanpa tutup. Jika hujan maka air hujan memenuhiku. Jika panas mendera kau tahu rasanya. Air hujan yang tertampung itu perlahan meluap dan hanya menyisakan karat padaku.
Oh, aku berpikir... dan melayang..
Bagaimana jika aku tanpa sengaja ditemukan sekelompok anak kecil yang tengah bermain karet gelang, dililit-lilitkan di jari-jari mereka hingga membentuk rumah, panah, atau bahkan kuburan. Ketika menemukan aku, si kaleng kosong berkarat ini, terlihat jelas wajah mereka seperti mendapatkan sekantong permen tak diduga dari orang entah siapa. Betapa girangnya mereka karena permen itu bukanlah sesuatu yang bisa mereka dapatkan saban hari. Terlebih lagi bukan sebiji dua yang mereka dapatkan, sekantong! Bayangkan sekantong! Kesenangan itu tentu sering menjadi angan-angan belaka bagi mereka anak kecil karena sang ibu yang tak izinkan untuk membeli, lalu bagaimana pula cara mereka merasakan nikmat manisnya bergoyang di lidah. Entah karena harganya yang mahal (sebab kemasannya yang mewah selayaknya aku dahulu. Kau tahu kan betapa mahalnya aku?), atau karena ditakut-takuti akan sakit gigi.
Tapi, jika kupikirkan lagi, pastilah karena uangnya habis untuk membeli susu formula adik. Jika habis, kalengnya mungkin dibuang seperti aku. Tergolek di tong sampah, diserang panas, hujan berkepanjangan kemudian berkarat tak berdaya. Dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang peduli kecuali dua hal: ditemukan pemulung atau berpindah tangan pada anak-anak yang amat ingin bermain karena sesal tak mendapat sekantong permen dari ibunya.
Apa yang terjadi kemudian?
Satu. Jika pemulung menemukanku maka aku akan masuk ke karung goni palstik yang baunya busuk seperti nasi basi yang sudah berjamur seminggu. Aku akan bercampur tertumpuk, berdesakan dengan puluhan kaleng dan botol lain. Entah darimana pemulung itu mendapatkan mereka. Lengkap sudah nasibku ini. Sudahlah tak bertutup, karatan, berkumpul pula dengan sekumpulan kaleng, botol yang baunya macam-macam lagi. Rasanya lebih baik di tong sampah. Meski ada sampah-sampah lain namun jelas akulah yang berbeda. Lain dari yang lain. Jadi, aku masih bisa berbangga diri seperti dulu toh? Meski tempatnya kini sudah jauh, sangat jauh berbeda.
Dua. Jika aku berada di tangan anak-anak itu maka mereka akan menjadikanku apa saja. mainan mereka, tapi bentuknya apa saja. Karena imaji dan fantasi anak-anak memang tak terbatas. Tak ada belengggu dan tak ada habisnya. Kadang orang dewasa sekalipun tak mampu menyamai bahkan berpikir serupa, berimaji sejalan. Terlalu banyak yang dipikirkan orang dewasa daripada sekadar berfantasi. Apa gerangan? Hidup mereka? Hidup ini tak usah dipikirkan, tapi dijalani! Tapi mana mau mereka mendengar, nasihat itu ibarat celoteh anak kecil pikirnya. Tak perlu diresapi. Angin lalu saja. Mereka merasa paling tahu tentang hidup padahal anak kecil sekalipun mampu memberikan pencerahan pada mereka. Terlebih-lebih cara untuk terbang, bebas dari belenggu, lepas berimajinasi. Tapi dasar orang dewasa. Seringnya merasa lebih pintar.
Anak-anak itu bisa menjadikanku apa saja. Kaleng untuk penggulung benang layang-layang mereka, mereka pukul-pukul saja dengan kayu sehingga berbunyi bising diiringi dengan nada nyanyian mereka. Asalkan mereka jangan nyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Kasihan, mereka masih kecil, biarkan saja tetap berada dalam dunianya yang penuh warna dan tawa. Tak perlu merasakan kesedihan, kepedihan orang-orang dewasa yang galau karena cinta.
Atau, mereka juga bisa mendirikanku di tengah jalan dan kemudian mereka tembakkan gundu mereka ke arahku sehingga aku berbunyi bising lagi. Tawa mereka pun pecah. Senang telah berhasil menembakku tepat sasaran. Layaknya koboi yang tengah duel dan berhasil menumbangkan lawannya. Senyum seringai menghiasi wajah mereka. Meski ada beberapa anak yang tak berhasil menembakku dengan tepat mereka akan tetap tertawa, tak berkecil hati, karena masih ada kesempatan, masih ada cara lain untuk benar-benar menembakku dengan tepat. Permainan inilah yang mereka tertawakan. Apapun hasilnya, mereka masih tergelak bersama, sambil menikmati sore yang perlahan senja. Menunggu akhirnya mereka dipanggil ibu pulang untuk mandi.
Lalu bagaimana dengan nasibku? Bisa jadi aku akan mereka biarkan berada di tengah jalan sampai ada orang dewasa yang mengenyahkanku kembali ke peraduanku: tong sampah. Hingga esok aku entah akan hilang di balik karung goni plastik sang pemulung atau malah kembali menjadi mainan bagi anak-anak itu.
Akan jadi apa aku besok? Itu masih misteri. Perjalanan masih panjang. Jangan cepat berkecil hati. Putus asa masih jauh. Kejutan masih menantiku esok. Dan begitupun kehidupan anak-anak itu. Orang-orang dewasa itu.
Saturday, February 26, 2011
My rating: 5 of 5 stars
Saya tidak tahu harus memberikan berapa bintang untuk karya Dee yang satu ini. Kalau bicara ingin, dari awal saya tahu akan beri bintang lima. Tapi kalau bicara harus...., sepertinya akan berbeda.
Saya meragu. Saya jadi segalau ini. Disatu sisi, saya sudah langsung jatuh cinta ketika membaca Rectoverso—karya Dee yang pertama saya baca. Yang artinya, saya percaya karya Dee sempurna. Membuat saya tidak hanya penasaran dengan ceritanya, tapi juga masuk ke dalamnya dan merasakan. Tapi di sisi lain, Perahu Kertas ini bukanlah sesuatu yang sebagaimana saya harapkan. Bukan berarti saya kecewa. Tidak begitu. Karena saya suka tokohnya. Karakter mereka begitu kuat. Saya suka konfliknya. Emosi mereka yang bermain dalam novel ini naik turun, sesekali emosi saya juga. Entah karena turut merasakan emosi mereka juga atau malah karena saya merasa tak menemukan apa yang saya cari, apa yang saya mau dalam karya Dee ini. Saya suka bahasanya. Ringan namun berisi. Dengan komposisi manis yang pas dan menarik hati untuk membacanya.
Hmmm, kalau ceritanya.... Mungkin sebagian besar orang bisa bilang banyak terjadi kebetulan dalam alur ceritanya. Tapi saya percaya itu bukan kebetulan. Karena meski dalam cerita, dunia khayal—fiksi sekalipun, tidak ada yang namanya kebetulan. Saya lebih setuju jika itu semua adalah takdir. Bagaimanapun, dari kacamata saya, penulis adalah Tuhan bagi skenario ceritanya. Ia berhak untuk menentukan bagaimana alur cerita itu akan bergulir. Siapa akan bertemu siapa, dan bagaimana itu terjadi, dan seterusnya. Bahkan di dunia ini, sehelai daun yang jatuh pun ada sebab. Maka saya tidak percaya pada kebetulan. Meski itu hanya dalam sebuah cerita. Saya percaya itu takdir.
Perlu saya akui, saya tidak begitu suka dengan ceritanya. Sempat membuat saya agak bosan dipertengahan cerita. Bukan karena alurnya yang sepertinya sudah dapat ditebak, hanya saja entah kenapa saya tidak benar-benar bisa menikmatinya, tidak sungguh bisa ikut merasakannya. Tidak secara total. Di beberapa bagian, ya. Tapi tidak seluruhnya. Padahal, saya tahu saya memang terpikat dengan bahasa dan gaya ceritanya. Saya tidak pernah sangsi dengan bahasanya yang begitu memikat hati.
Terlepas dari itu semua, walaupun saya tidak secara total jatuh cinta pada Perahu Kertas ini tapi saya tetap cinta dengan segala spirit dan jiwa yang terdapat pada keseluruhan novel ini. Dan pada akhirnya saya tahu bahwa kecintaan saya ini mengalahkan faktor-faktor kecil dari ketidaksukaan saya sehingga saya tahu saya akan berikan lima bintang untuk novel ini. Namanya saja sudah cinta, kalaupun ada yang kurang sedikit itu bukanlah masalah. Karena perkara mencintai bukanlah terletak pada kesempurnaan, justru bagaimana mencintai ketidaksempurnaan itu. Seperti itu pula kiranya perasaan cinta saya pada novel ini.
Dan saya ingin melepaskan perkara “harus” atau “ingin” itu. Karena namanya saja sudah cinta. Cinta itu menerima meski tak sempurna.
Cheers. :D
View all my reviews
My rating: 4 of 5 stars
Saya tidak ingin memaksa diri untuk mengerti bagaimana kisah ini. Kemudian, tak perlu juga mendesak keinginan untuk memahami bagaimana cerita ini bergulir dengan sederetan tokoh, alur, dan konflik yang ada di dalamnya. Hanya rasakan saja. Merasakan justru lebih baik untuk saya. Tidak harus bertanya mengapa tiba-tiba ceritanya begini, atau mengapa alurnya begitu. Saya hanya ingin merasakan apa yang terjadi, menyimak dengan seksama, dan mendengarkan dengan baik, karena “Aku” sebenarnya sedang ingin berbagi, bercerita.
Bagi saya, cerita ini adalah kenangan. Dan kenangan adalah salah satu hal yang berharga yang dimiliki dan untuk dapat disimpan. Bahkan akan lebih baik jika itu bisa dibagi. Dan alangkah senangnya jika ada seseorang yang dengan senang hati bersedia mendengarkan. Menjadikannya pula sebagai kenangan bagi dirinya pribadi. Terlebih lagi ketika tidak ada sikap menghakimi, ini salah itu benar, menyudutkan, apalagi memojokkan.
Saya suka dialognya. Terasa singkat, jelas, namun sarat makna. Meskipun harus saya akui bahwa segala makna yang tersirat di dalamnya belum sepenuhnya saya pahami. Oh, sepertinya tidak perlu saya pahami untuk saat ini, karena tidak semua pertanyaan dalam benak saya harus dapat jawabnya saat ini. Atau mungkin tidak akan saya temukan jawabnya. Tidak masalah. Setidaknya saya mencoba merasakan.
Sepertinya hanya ini yang dapat saya ungkapkan. Dan begitulah.
View all my reviews
Sunday, January 30, 2011
Empat Musim, 16 Cerita

Hmmm...
Ternyata memang tidak biasa. Bertemakan cinta dengan jalan cerita yang sederhana, tapi toh ternyata endingnya tidak seperti yang disangka. Banyak cerita yang mengejutkan. Ada yang bikin saya jadi senyum-senyum sendiri, tapi ada juga bikin hati saya ngenes. Yang jelas, cerita-cerita dalam buku ini terasa begitu jujur dan mengalir.
Ada Adhitya Mulya. Penulis yang saya kenal familiar lewat novel “Jomblo”-nya. Tulisannya kocak dan menghibur. Tapi kadang juga terasa aneh. Seperti cerita “Scene 40 Yang Bermasalah Itu”. Bagi saya cerita itu aneh. Sebenernya dia ingin melucu atau ngehoror? Aduh, saya sempat ingin melewatkan membacanya tapi, ya, tanggung juga. Saya tidak habis pikir kenapa ada salah satu tokoh menyeramkan—yang sangat tidak ingin saya sebutkan namanya—yang sering dimunculkan dalam cerita itu. Saya tidak suka horor dan mari kita skip saja. Bygones.
Saya suka cerita “Pernah Jadi Aku?” yang ditulis Okke ‘Sepatumerah’. Benar-benar terasa seperti ungkapan dari hati. Saya jadi berpikir bahwa memang banyak orang menutupi sisi psikologis yang ada dalam dirinya, sebenar-benar perasaannya, dan juga amarahnya. Dan yang bisa dia lakukan adalah mencari alasan pembenaran atas semua yang terjadi terhadap dirinya. Atas bagaimana orang-orang menilainya, memperlakukannya. Tapi sayang, ketika alasan itu sudah tak dapat lagi memberikan pembenaran bahkan peneguhan maka emosi dan amarah itu menyeruak, berteriak, meraung. Itu yang saya rasakan pada seorang “Cassie”, tokoh dalam cerita ini. Saya jadi ingin mengutip:
“Kalo gitu, lo nggak tau apa-apa sama sekali. Gue pernah. Selama 24 tahun gue hidup, gue diperlakuin kayak gitu. Selama ini gue berusaha nerima dan menganggap ringan semuanya. Tapi sekarang gue udah muak.”
Yap. Menerima begitu saja apa yang terjadi sepertinya bukan hal yang mudah dilakukan. Mungkin. Tapi intinya saya suka cerita ini.
Saya juga terpaut oleh cerita “Saya, Dia, dan Samuel Morse” yang ditulis Rizki Pandu Permana. Ooh, sebuah cerita perkenalan yang manis. Lebih deskriptif. Percakapan yang terjadi antara tokoh yang ada terlihat biasa saja, tapi jelas jujur dan bermakna. Saya juga ingin katakan cerita ini so sweeeeet... hehe...
Tapi hati saya mendadak terhempas ketika membaca “Sekeping Hati yang Tersisa”. Dari judulnya saja sudah bikin sedih. Kalau bisa saya andaikan, cerita ini sepertinya terwakili dengan lagu “Yang Terlewatkan”-nya Sheila on 7. Hmmm....
So, 16 cerita dalam buku ini menyajikan cerita cinta yang kalau saya bilang... sederhana tapi berbeda. Mantep deh!
Wednesday, December 29, 2010
dark black
Orang yang paling menyedihkan adalah orang yang merasakan kepedihan tanpa mampu membagi kepedihannya pada siapapun.
Orang yang paling menyedihkan adalah orang yang merasakan kemarahan tanpa mampu mengungkapkan kemarahan itu dengan cara yang sopan pada siapapun.
Orang yang paling menyedihkan adalah orang yang merasakan sesuatu apa pun itu, tapi sayangnya ia tak memiliki orang yang tepat untuk membaginya, karena hati yang tak terkoneksi, pikiran yang tak menyatu, atau barangkali waktu yang tidak tepat. Ah, anjing. Apa manusia harus selalu butuh waktu yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu? Apakah memang harus selalu butuh waktu yang tepat untuk membagi sesuatu? Bagaimana jika sesuatu itu tak bisa menunggu?
Ah, anjing. Anjing. Anjing.
Nonsense.
Hibernasi, kembalilah padaku. Peluklah jiwaku. Aku tak ingin manusia-manusia itu. Aku cuma ingin kau. Cukuplah bagiku kita dan Tuhan saja yang tahu.
Harapan
Adakah benar harapan itu harusnya dijaga, dipelihara, dipupuk dan terus dipercaya hingga benar pupus segalanya? Hingga segalanya habis tak bersisa? Aku menyimpan kecurigaan besar bahwa harapan itu adalah kehampaan, penipu ulung di hati manusia yang sepi, setia menemani pada relung jiwa yang kosong. Harapan itu bukan seperti si cantik yang buruk rupa atau seekor kodok padahal pangeran tampan. Justru sebaliknya, ia seolah terasa manis dan membahagiakan, malahan ia hanya tawarkan suatu ruang tak bernyawa. Tapi, bagaimana mungkin banyak dari mereka yang bisa hidup di ruang hampa itu?
Coba saja pikirkan, berapa banyak orang yang masih berharap pada sesuatu atau orang lain yang sudah tak bisa lagi diharapkan? Berapa banyak kekasih yang berharap pasangannya kembali meski nyatanya sudah tak mungkin? Berapa banyak orang yang hidup dengan asa tapi malah mati sia-sia di dalamnya? Harapan menjadi bermuka dua, licik. Ia seperti menawarkan jawaban dan pembenaran atas segala yang tak nyata dan tak mungkin. Katanya, “masih ada waktu” atau “tak ada yang tak mungkin” atau bahkan, “segalanya bisa saja berubah”. Hei, okey, fine. Tapi ayo kita balik lagi. Barangkali orang bisa mengiyakannya, tapi sejauh mana harapan itu bisa menjadi ketenangan yang diidam-idamkan hati dan perasaan? Sejauh mana harapan itu dapat menjawab pertanyaan yang datang dari orang lain, bahkan diri sendiri? sejauh apa harapan itu dapat menjelma menjadi suatu kekuatan terbesar untuk bertahan?
Adakah benar adanya menggantungkan hidup kita pada harapan?
Pada titik ini, aku pikir, harapan menjadi perpesktif yang menyajikan rasa pesimis. Mereka merasa hidup dengan harapan. Bisa jadi mereka hidup, tapi jiwa mereka telah mati. Mereka membunuh jiwa mereka sendiri, mengantarkan hati pada jurang harapan yang kelam. Sungguh, aku berprasangka pada harapan itu. Jika begini kasusnya maka sudahlah, relakanlah, dan berhentilah berharap. Maafkan, harapan itu semu.
Namun, justru persoalan yang jadinya membingungkan adalah terkadang ketika harapan dipercaya sebagai suatu keajaiban maka ia serta merta menjadi suatu energi tak berbatas bagi mereka yang menjaganya. Mereka akan terus hidup dari energi asa yang mereka biarkan untuk mengalir terus mengisi apa yang ku kira kehampaan. Mereka percaya bahwa harapan itu benar, ia tak semu, tak hanya idaman hati. Karena ia begitu nyata. Senyata ketika kau percaya, merasakan harapan itu memenuhi hati dan jiwamu. Mengisi dada dan otakmu. Bahwa harapan memang harus diperjuangkan. Seperti laiknya harapan orang tua pada buah hatinya.
Jika begini jadinya, apakah harapan itu tak punya makna absolut? Mengapa masih ada tawar menawar? Ini bukan jual beli. Harapan bukan dagangan, I guess.
Lalu, berada di sisi manakah kita? Oh, entahlah. Biarkan saja hati memilih mana yang kau percaya.
Thursday, December 2, 2010
McBealism

Ini mereka: Ally McBeal, Renee, Billy, Georgia, John Cage, Richard Fish, Elaine, Nelle, dan—Ling. Ada dua kata yang bisa kukatakan untuk mereka dan film ini: Odd and expressive! Bayangkan saja, ini aneh ketika Ally yang ketika itu berumur 8 tahun sudah mengetahui belahan hatinya, hanya dengan “mengendus” pantat teman semasa kecilnya—Billy. Hmm, bukankah itu cara seekor—maaf—anjing untuk menarik perhatian lawan jenisnya? Atau katakanlah sekadar berkenalan saja? Tapi toh, itu terjadi dalam kehidupan Ally. Tunggu, aku pun tak bisa memvonis bahwa itu sesuatu yang aneh—atau sangat aneh.
Kemudian aku melihat sesuatu yang berbeda, atau lebih aneh lagi. John Cage, merasa penting untuk memastikan bahwa toilet favoritnya haruslah benar-benar bersih. Maka sebelum ia menggunakannya, cukup tekan “flusher” dan brushhhh... toilet itu secara otomatis menyiram sendiri. Ketika orang lain atau rekan kerjanya memperhatikannya dengan pandangan setengah ingin tahu bercampur setengah terkejut, ia cukup katakan: “I like fresh bowl”. Dan ia berlalu. Aneh? Jangan dulu.
Dan dalam episode lain aku menemukan, Ally sering melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Entah itu unicorn, balita laki-laki yang senang menari, atau imajinasi liar lainnya yang terasa begitu nyata. Lalu, bagaimana John Cage dan Richard Fish merasa harus mendengar “bel” percaya diri berdenting dalam kepalanya sebelum melakukan sesuatu. Atau kebiasaan John yang selalu melepas sepatunya dan berputar mengelilingi sebuah pilar tembok untuk persiapan closing di persidangan. Dan bahkan Ally, yang dapat menggoyangkan bahunya, menari sebenar-benarnya menari, hanya karena ia mendengarkan musik favoritnya bergaung di kepala... “Yeah, the music is playing on my head”... And Elaine! How could I forget? Dengan karakternya yang suka gosip dan merasa selalu dibutuhkan, ia punya sesuatu yang lebih “lain”. Ia lebih sibuk memperkenalkan “face bra” atau inovasi produk lainnya di kantor. Aneh kan? Belum tentu.
Pada satu titik, aku memikirkan bahwa setiap orang memiliki sisi yang berbeda, sisi aneh dalam dirinya. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan sebaliknya, jangan-jangan kita harusnya merasa aneh karena tidak memiliki keanehan sama sekali. Dalam hal ini, aku memandang keanehan personal sebagai sesuatu yang manusiawi. Batasan mengenai apa yang membuat keanehan tersebut masih dalam taraf “normal”, kita punya pandangan masing-masing . Bisa jadi, batasan itu tak selalu sama. Mungkin saja, batasan itu menjadi kabur atau tidak jelas karena kita tak punya aturan baku untuk itu. Tapi bagiku pribadi, selama keanehan itu tak membuat orang di sekitar kita terusik atau terganggu hidupnya, lalu apa yang salah?
Keanehan-keanehan pada karakter dalam film ini membentuk suatu keunikan yang berbeda. Mereka tetaplah para pengacara yang brilian, cerdas, dan memukau. Walaupun mereka punya sifat-sifat keanehan , justru itu bukanlah masalah. Karena dengan itu, mereka berani untuk menunjukkan bahwa beginilah aku! Dalam interaksinya, mereka menerima keanehan masing-masing, memperlihatkan diri mereka secara natural dan ekspresif. Mereka memiliki keanehan tanpa harus takut untuk dicap aneh. Dan penerimaan seperti itu merupakan penghargaan bahwa mereka saling mengerti dan menghargai satu sama lain. Bukankah begitu lebih enak?
Maka ingin kubagi padamu, aku tak perlu takut untuk dikatakan aneh ataupun berbeda, jika aku hingga saat ini masih berhibernasi—meski dalam level yang berbeda—sambil berbicara dengan diriku sendiri hanya untuk dapat membuatku kuat, tegar, dan percaya diri pada titik tertentu. Kita mempunyai keunikan yang jelas berbeda dari yang lain. Begitu pula sebaliknya. Daripada aku memusingkannya maka kuputuskan untuk menikmatinya. Bisa jadi, keunikan atau keanehan ini memang Tuhan berikan secara khusus pada setiap makhluk-Nya. Ini anugerah. Jadi, tersenyum saja yang manis.